Satu Kalimat di Film Yang Memaksaku Lama Berpikir

Salah satu poster film Palestine 36 yang fotonya bukan tokoh utama

Seminggu yang lalu aku nonton film Palestine 36 di CGV Grand Indonesia, bercerita tentang awal sejarah Palestina yang dizalimi oleh Zionis. Sesuai judul, ada dialog di film itu yang memaksaku untuk lama berpikir setelahnya, yang sayangnya, karena tidak dicatat, sekarang aku jadi lupa kalimat persisnya apa :’D Ditanya ke ChatGPT pun, dia tidak tahu. Tapi kira-kira begini adegannya:

[Anak kecil perempuan sedang dinasehati neneknya di tengah kondisi desanya yang sudah banyak diteror zionis]

Grandma: “I will teach you how to use it (a weapon). But you must know you have something more powerful than the entire British empire.”

The girl: “What is it?”

Grandma: “You come from a people who fight. They may take our land, but they cannot take who we are.”

Dan kurasa, dari kalimat-kalimat neneknya itu, akhirnya tertanamlah pengertian di benak si anak bahwa dia sungguh harus jadi kuat dan terus pantang menyerah, karena dia keturunan pejuang. Bisa jadi itu pulalah yang tertanam secara kolektif di jiwa rakyat Palestina, sehingga sampai sekarang mereka masih berani melindungi tanah mereka. Kita akan lebih punya semangat juang pada saat kita tahu siapa diri kita dan dari mana kita berasal. Mungkin ini juga bukan pertama kali aku atau kamu melihat adegan atau mendengar kalimat seperti itu. Tapi entah mengapa, di momen itu, interaksi si anak perempuan dan neneknya membuatku jadi berhenti sejenak untuk berpikir ulang tentang banyak hal.

  1. Aku jadi berefleksi ke diriku sendiri. Fun fact: di beberapa momen terendahku, yang bisa mengembalikan semangatku adalah setiap kali aku bilang ke diriku: “Hani, inget, kamu tu anak bapak!” Mungkin kalian sadar dari nama blogku atau beberapa tulisan di blog ini bahwa bapakku adalah manusia yang paling penting dalam hidupku. Aku tidak merasa dibesarkan untuk jadi daddy’s little princess, tapi daddy’s little warrior, yang akhirnya kujadikan identitas blog ini. Bapakku seorang pekerja keras, banting tulang, tidak banyak bicara, tapi perjuangan dan berbagai pengorbanan dalam hidupnya bisa kusaksikan sendiri. Sehingga cukup hanya dengan mengingat bahwa aku adalah anak beliau, anak dari seseorang yang tidak mudah patah, itu sudah bisa memberikanku lecutan untuk tidak menyerah pada hidup, mengingatkanku lagi siapa aku dan dari mana aku berasal. Sepowerful itu. Selalu kusampaikan juga hal tersebut di depan keluarga besar, yang hasilnya, mereka tahu semangatku seperti apa, bahkan termasuk saat aku cedera lutut parah sampai meniskus (bantalan sendi) robek dan kondisi kakiku jadi “tidak normal” sampai sekarang, respon ibuku jadi seperti ini:
obrolan Whatsapp dengan ibu

“Tidak ada anak Bapak cengeng.” Hmmm… Tapi aku jadi lanjut berpikir, “Kenapa ya itu mempan di aku?”, karena aku yakin motivasi seperti itu belum tentu mempan di orang lain. Sejauh ini, teori sementaraku adalah: kekuatan diri = pengenalan identitas + attachment/kemelekatan.

2. Di saat yang sama, ini bulan Ramadan, dan aku berinteraksi dengan anak-anak muda yang beragama Islam tapi tidak berpuasa, hanya karena malas, tidak ada uzur apa pun. Itu jadi bahan renunganku juga. Jangan-jangan mereka lemah seperti itu karena tidak mengenal diri mereka dan dari mana mereka berasal. Tidak ada kekuatan karena tidak ada identitas dan tidak ada attachment. Sebenarnya, mengujinya bisa dimulai dengan memberi mereka pertanyaan pendek: “Apa kamu tahu awal mengapa kamu diciptakan Tuhan?” Karena Allah sudah berfirman: ‘Tidaklah kuciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah (kepada-Ku)” (Q.S. Adz-Dzariyat, 56). Default setting-nya manusia seharusnya hanya untuk beribadah. Kalau kamu tidak beribadah, itu artinya kamu sedang mengingkari identitasmu sendiri yang paling sejati sebagai hamba Tuhan. Ibadah bisa jadi terasa lebih ringan kalau kita ingat siapa kita di muka bumi ini. Lagi-lagi penanaman identitas.

3. Dalam konteks yang lebih besar, mau tidak mau, film Palestina 36 juga memaksaku untuk berpikir tentang umat Islam bahwa kita harus kuat dan pintar agar bisa berdaya, tidak mudah dizalimi dan terus berkembang. Dengan menggunakan rumus yang sama, mungkin umat Islam bisa lebih kuat jika lebih mengenali identitasnya dan memiliki ikatan dengan agama dan sesama umat. Selain dalam hal perang, kita harus ingat bahwa kita adalah umat yang dulu memimpin dalam ilmu pengetahuan, yang seharusnya itu digaungkan terus sehingga kita lebih punya semangat untuk meneruskan nilai-nilai itu.

4. Kalau dalam konteks rakyat Indonesia, identitas apa ya yang harus ditanamkan? Bahwa kita juga adalah bangsa pejuang? Sepertinya rakyat Indonesia tidak kekurangan attachment terhadap negaranya, tapi semakin aku berpikir dan mengingat, semakin aku sulit menangkap identitas apa ya yang selama ini ditanamkan secara kolektif. Kisah-kisah penjajahan dulu sepertinya malah membuat Indonesia punya mental “terjajah”, melihat kaum kulit putih lebih istimewa dan pintar, sehingga sering kali merasa bahwa adanya orang-orang asing di pucuk kepemimpinan itu biasa saja. Apa identitas kita? Bahwa kita bangsa besar? Besar dalam hal apa? Jumlah penduduk? Besar di sumber daya alam yang semakin lama semakin hancur itu? Sepertinya yang paling kuat adalah identitas Pancasila, konsep “berbeda tapi satu”. Terbukti ada banyak suku, ras, dan agama, tapi negara ini masih berdiri. Tapi apa itu cukup? Dan kira-kira identitas mana ya yang membuat kita jadi bangsa koruptor? Mungkin kita harus meredefinisikan lagi itu semua, kembali ke akar-akar yang baik, lalu memperkuat identitas itu sehingga kita secara kolektif bisa menjadi negara yang lebih kuat.

Akhirnya, semua kembali tentang pengenalan identitas. Yang menariknya, setiap orang punya banyak identitas yang menempel pada dirinya. Identitas mana yang kamu pilih akan menentukan karakter dan motivasimu dalam hidup. Sejauh ini, aku sendiri memilih untuk merangkul semua identitas yang aku miliki, bahwa aku adalah hamba Tuhan yang wajib beribadah, aku juga anak bapakku yang kuat, aku adalah orang Islam yang harus pintar dan berdaya, dan aku selamanya adalah orang Indonesia. Walau banyak negeri kudatangi, dan mungkin suatu hari nanti aku bisa saja berganti kewarganegaraan, tidak akan bisa menghilangkan identitas dari mana aku berasal. Identitas adalah kekuatan, tapi akan selalu butuh proses untuk mempelajari kesemuanya.

Long live Palestine,

Hani

Efek (Suplemen) Kreatin Untuk Thalassemia Gw

September 2015, di hari pertama kali gw tahu punya thalassemia

Waktu itu awalnya iseng regular check-up ke dokter, gara-gara gw punya OSHC (Overseas Student Health Cover) atau simpelnya asuransi yang bisa gw pake selama studi di Australia. Temen-temen pada pake untuk periksa macem-macem, gw jadi FOMO, padahal gw gak punya keluhan kesehatan sama sekali. Tapi ternyata hasil check-up-nya surprising. Gw jadi tahu kondisi gw yang selama ini gw gak sadar bahwa gw sangat defisit vitamin E dan termasuk bahwa gw punya thalassemia minor. Itu adalah pertama kali gw denger ada yang namanya thalassemia, dan pertanyaan yang keluar dari mulut gw pertama kali adalah: “Is it curable?”, “No, kata dokternya. Gak bisa disembuhin, cuy. Dia jelasin bahwa thalassemia adalah kelainan darah genetik, yang artinya di antara ibu dan bapak gw, salah satu dari mereka ada yang thalassemia juga. Dokternya bilang karena ini thalassemia minor, gw gak separah penderita thalassemia mayor yang harus rutin transfusi darah. Tapi setidaknya gw harus aware, karena ini akan berdampak kalau suatu hari gw menikah dan merencanakan punya anak. Sebagai pemilik thalassemia minor, kalau suami gw punya thalassemia minor juga, ada kemungkinan anaknya jadi thalassemia mayor, dan itu sangat membahayakan nyawanya. Waw, terdengar ekstrem. Tapi karena kondisi gw saat itu sangat tenang dan gw gak ngerasa si thalassemia banyak mengganggu aktivitas, jadi gw santai aja. Begitu pulang hari itu ke apartemen, gw video call ibu bapak dan ngasih tahu bahwa salah satu dari mereka punya thalassemia yang diturunin ke gw. Ibu langsung bantah, “Ah, nggak. Ibu bapak sehat-sehat aja.” “Bukannya nggak, Bu. Tapi Ibu Bapak gak tahu aja, karena gak pernah cek.” Kebetulan nyokap gw adalah tipe orang yang selalu lebih pilih gak tahu, daripada tahu lalu jadinya banyak pikiran. Makanya, regular check-up bukanlah sebuah ide yang menarik untuk beliau.

Gw cek di kliniknya kampus UniSA (Uni of South Australia)

Waktu berlalu, akhirnya 2018 gw menikah. Belum ada rencana punya anak, pikiran tentang thalassemia pun jarang diingat. Tapi setelah hidup bersama manusia lain (baca: suami) selama beberapa tahun, barulah gw ngeh bahwa ternyata gw beda. Badan gw beda, apalagi di beberapa tahun terakhir. Ngeh-nya adalah saat setiap kali pulang dari traveling, setelah gw dan suami pergi agak lama, di mana aktivitas kami selalu bareng ke mana-mana, ngerasain pengalaman yang persis sama, tapi ternyata saat pulang, kondisi badan kami sangat jauh berbeda. Misalnya, setelah jalan-jalan dari luar negeri selama dua minggu, begitu kami pulang nyampe apartemen di Jakarta, suami gw bisa langsung mandi dan pergi ke kantor di hari itu juga. Sedangkan gw, tepar gak punya tenaga sama sekali dan butuh bedrest minimal 2 hari sampai ngerasa lumayan recover. Selama ini gw pikir badan orang-orang lain juga kayak gw, setelah bepergian lama, pasti butuh bed rest lama sampai bisa berfungsi normal. Tapi setelah nikah, ada orang lain yang secara konsisten bisa gw bandingkan dengan gw, gw baru ngeh bahwa badan gw lemah. Bisa jadi memang karena beda gender juga, tapi secara umum, kalau dibandingkan dengan perempuan lain pun di aktivitas traveling bersama, badan gw minim banget tenaganya untuk kembali. Ini kadang jadi sumber konflik. Misal saat kecapekan, gw beneran setepar itu, sedangkan dari sisi suami gw, saat dia gak ngerti, ngelihat gw yang tiduran lama, dia mikirnya gw pemalas dan lelet. Padahal gw beneran slow recovery, cuy. Hal ini pula lah yang akhirnya menghubungkan titik-titik lain di hidup gw yang selama ini gw pikir gak saling berhubungan, tapi lama kelamaan kok gw ngerasa ada hubungannya:

  1. Dari dulu, dari gw kecil, mau ke puskesmas, dokter, atau RS, setiap kali gw diukur tensi, hasilnya selalu rendah. Tekanan darah gw hampir gak pernah normal. Saking selalu terjadi, setiap kali susternya bilang “wah, tensinya rendah ya. Lagi kurang tidur atau kecapekan?” “Nggak, sus. Emang selalu rendah.” Tekanan darah rendah buat gw adalah default, jadi gw selama ini berpikir bahwa tensi rendah terus ya normal aja.
  2. Kalau badan diibaratkan baterai, gw ngerasa baterai gw tu gak pernah 100%, bahkan di momen gw paling bertenaga dan fit maksimal. Ibarat battery health di iPhone, badan gw tuh levelnya 87%. So, seberapa pun gw nge-push supaya naik ke 100%, gw ngerasanya stamina gw gak akan nyampe 100.
  3. Gw sangat gampang dan sering sakit kepala, semua jenis sakit kepala, ya migren, ya kleyeng-kleyeng, ya nyeri di tengah pusat kepala, semua deh. Gw sampe googling (waktu itu belum zaman AI) apa yang terjadi di gw sebenarnya. Tapi gw malah nemu salah satu artikel yang bilang penyebab migren adalah perempuan. Jadi gw gampang migren simply karena gw perempuan. Blah. Gak fair banget. Tapi lama-kelamaan gw merhatiin pola sakit kepala gw. Ternyata kepala gw auto kumat kalau gw telat makan, atau abis kena asap polusi motoran di jalanan, kadang di hari pertama haid, daaan yang rese adalah, gw juga sakit kepala kalau masuk mall! Masuk mall ini sakit kepalanya on-off. Kadang sakit ringan, kadang sakit berat, tapi kadang juga normal biasa aja. Tapi ada mall yang konsisten bikin gw sakit kepala kalau gw muter-muter jalan di situ. Jadi kayaknya gw sensitif sama sistem AC mall-nya. Tapi kadang juga out of the blue gw bisa tiba-tiba migren. Dan fyi, sakit kepala ini nyiksa banget. Gw capeeek tiap harus ngerasain nyerinya. Apalagi kalau pas kena sakit di pusat kepala. Haduh. Literally gw gak bisa ngapa-ngapain, cuma bisa nahan sakit. Dan karena gw juga bukan orang yang suka konsumsi obat, tiap kali sakit, gw lebih milih maksa diri untuk tidur, karena setelah tidur, begitu bangun, kepala gw jadi terasa lebih ringan.
Di Sungai Mekong di Vietnam, hari terakhir menjelajah Ho Chi Minh bersama suamik, yang setelahnya gw tepar capek

Nah, selama ini gw merasa bahwa 3 hal di atas tuh gak saling terhubung secara langsung, tapi lama-lama gw jadi mikir, apa jangan-jangan sebenernya mereka semua terjadi karena thalassemia gw?

Akhirnya di 2025, gw memutuskan untuk cek lagi ke dokter untuk mantau si thalassemia ini, termasuk karena gw udah kepikiran rencana punya anak. Kebetulan bukti hasil thalassemia dari Australia di tahun 2015 itu gak gw bawa atau gw gak tahu ada di mana. Jadi gw sekalian mau mastiin lagi aja, gw beneran thalassemia atau nggak, kadarnya gimana, dan supaya ada bukti rujukan juga untuk dokter di Indonesia. Gw menjalani tes darah ini itu, dan hasilnya positif, gw memang thalassemia. Dokter ngegambarinnya “ibarat kalau darah orang normal itu bentuknya bulat, darah kamu tu bentuknya gak bulat, tapi meliuk-liuk gak simetris. Jadi bukan kurang darah, tapi bentuk darahnya memang gak normal.” Sayangnya walaupun begitu, gak ada saran kesehatan spesifik dari dokter, selain pokoknya gw harus jaga kesehatan, makan makanan bergizi, jaga pola tidur, dan berolahraga. Saran pada umumnya aja, karena memang gak ada hal khusus yang harus dilakukan.

Hasil awal tes darah

Di saat yang sama, di tengah isu thalassemia. gw masih tetap rutin nge-gym latihan beban, dan gw hampir selalu mengalami DOMS (Delayed Onset Muscle Soreness atau rasa pegal setelah aktivitas fisik berat) setelah nge-gym, apalagi kalau abis leg day. Ada yang bilang gw DOMS karena latihannya kurang sering (gw latihan beban cuma 2x seminggu). Kalau lebih rutin katanya bisa jarang DOMS. Tapi haduh, gw ngerasa 2x seminggu aja udah cukup, sisanya gw lebih pilih cardio di hari yang lain. Tapi karena urusan DOMS ini, entah dari omongan siapa, gw jadi terpapar dengan yang namanya suplemen kreatin (tambahan kreatin dari luar selain kreatin alami yang dihasilkan tubuh dari dalam) karena katanya kreatin bisa mengurangi DOMS. Mungkin pernyataan ini gak sepenuhnya benar. Kreatin gak serta-merta bisa langsung mengurangi DOMS, tapi cara kerjanya yang ngasih tenaga tambahan saat latihan bisa bikin badan jadi lebih siap dan gak gampang pegal setelahnya. Suplemen kreatin biasanya dikonsumsi oleh gym rat untuk bulking, tapi kabarnya, konsumsi kreatin tambahan juga bisa ngasih manfaat lebih selain hanya membesarkan badan. Selain membantu stamina, gw terpapar dengan postingannya @CoachDanGo yang bilang bahwa kreatin bermanfaat juga untuk performa kognitif, yang bahkan dia ngasih kreatin itu ke keluarga lansianya yang demensia. Riset seputar kreatin masih terus berkembang. Sekarang gak cuma terkait fitness, tapi juga dampak konsumsi kreatin tambahan terhadap fungsi kerja otak. Nah, atas dasar semua informasi terkait itu, termasuk info bahwa mengonsumsi kreatin tambahan secara rutin dalam jangka panjang tidak berisiko memberi efek samping berbahaya, akhirnya gw mulailah mengonsumsi kreatin. Gw beli creatine monohydrate unflavored dengan porsi satu scoop per hari. Selama mengonsumsinya, hanya ada satu hal yang gw jaga: gw berusaha minum air yang cukup karena katanya kreatin menyerap air di badan, jadi kita harus jaga asupan air supaya badan tidak dehidrasi. Gw rutin konsumsi kreatin di jam yang sama di setiap hari, dan hasilnya… jeng jeng… selain gw jadi lebih gendut (damn it), tapi ternyata gw juga jadi GAK PERNAH SAKIT KEPALA LAGI, COOYYYYY!! Masya Allah, alhamdulillah, Allohu akbar! Nah itu, gw gak tahu ini semua emang saling berhubungan atau gw yang cocokologi, tapi kenyataannya seperti itu. Gw gak pernah lagi sakit kepala, dan bahkan tiap masuk mall yang biasanya selalu bikin gw nyut nyut, sekarang udah gak pernah lagi! Gw bisa jalan-jalan di mall itu berjam-jam tanpa ngerasain kepala gw nyeri. Rasanyaaaa… luarrr biasaaaaa! Kalau kalian ngerasa ini mungkin kebetulan, fyi, gw pernah ke-skip gak konsumsi kreatin satu hari, dan gw tiba-tiba nyeri kepala lagi. Sakiiit banget. Dan karena itu nyiksa, gw jadi gak pernah lagi mau nge-skip si kreatin ini. Kalau ada yang bilang “wah, jadi ketagihan dong?”, entahlah, tapi sekarang gw udah ketagihan punya kepala enteng tanpa rasa sakit. Lebih dari itu, battery health gw juga jadi kerasa nambah, dari yang cuma 87%, sekarang kerasa jadi bisa maksimal di 95%. Sesignifikan itu. Walau konsekuensinya adalah: gw jadi genduuutt! Biasanya gw masih 40 kg-an, sejak pandemi gw jadi gembrot nyampe ke 50. Eh, setelah kreatin, gw udah nyampe ke 54 kg. Hadeuuhh -__- Gw ngeluhin ini sama suami, tapi menurut dia pun, lebih baik gendut tapi sehat daripada kurus sakit-sakitan. Jadi sementara ini yasudah, terima aja dulu badan agak membesar begini. Jadiin motivasi aja untuk lebih sering olahraga supaya pembakaran kalorinya lebih banyak. Disyukuri alhamdulillah untuk manfaat kreatinnya untuk hidupku.

Teman hidupku sekarang, walau rasanya kayak tepung

Nah, begitulah kira-kira pengalaman setelah 5 bulan konsumsi kreatin untuk gw si penderita thalassemia ini. Gw juga gak pengen cocokologi, makanya gw tuliskan semuanya di sini, siapa tahu ada yang relate atau sedang riset tentang kreatin atau thalassemia, lalu ingin membenarkan asumsi gw, atau mungkin sedang butuh responden untuk bantu risetnya, jadi kelinci percobaan, gw bersedia. Demi terwujudnya kehidupan para pemilik thalassemia (minor) agar bisa bebas beraktivitas tanpa rasa sakit. Semoga curhatan gw ini ada manfaatnya, minimal untuk mengingatkan bahwa kesehatan itu berharga, bahwa tiap momen kita bisa produktif tanpa rasa nyeri apa pun, itu adalah hal yang sangat harus disyukuri.

Salam sehat berstamina di bulan Ramadhan,

Hani

Sebagai Pecinta Buku, Ini Alasan Saya Tidak Suka Buku Motivasi

Two things I love the most: books & traveling (Photo: circa 2012)

Latar belakang: Saya ingin jadi pintar, makanya saya suka merhatiin orang pintar. Pola tingkah mereka, cara mereka berpikir, dan apa yang bisa ditiru. Dan salah satu orang yang pintar menurut saya adalah suami saya sendiri, jadi saya suka merhatiin kenapa kok kayaknya dia selalu bisa lebih pintar dari saya. Ada setidaknya dua poin yang saya dapatkan dari berinteraksi dengan dia:

1. Kadang gap antara kita dengan orang yang lebih pintar bukan ada di jumlah informasi yang dimiliki, tapi beda di kemampuan kita untuk menghubungkan antar informasi tersebut. Ini sering kali terjadi selama percakapan saya dan suami. Saat dia menjelaskan sesuatu, dia bisa menghubungkan informasi A ke B, lalu ke C, kemudian ke D, yang setelah saya telaah, semua titik informasi A-D itu bukanlah informasi baru untuk saya, tapi di kepala saya ya mereka semua tidak saling terhubung. Tapi saat dia yang menjelaskan, jadi terasa lebih komprehensif karena dia bisa menghubungkan berbagai informasi tersebut menjadi satu kesimpulan yang menjawab isu yang sedang didiskusikan. Selain titik informasi, cara membuat penghubung antara informasi pun sangatlah penting, agar jadi bentuk abstraksi yang masuk akal. Karena walau titik informasinya valid, tapi kalau penghubungnya tidak rasional, itulah yang dinamakan cocokologi. Di momen itu, saya jadi berpikir: “Wah, gila! How could I acquire that skill? To connect the dots!” Kalau suami, kayaknya ada faktor gifted juga, selain memang bacaan dia yang jauh lebih banyak. Tapi untuk membantu orang-orang kayak saya, sebenarnya ada metodologi yang bisa dipelajari, yaitu metodologi “knowledge management” seperti Zettelkasten, yang diciptakan oleh sosiolog Jerman, dan menjadi rujukan orang juga tentang bagaimana membangun “the second brain”. Ini membawa kita ke poin berikutnya, yaitu…

Rasanya beda otak saya dan suami seperti di gambar ini

2. Ilmu itu sifatnya tidak linier, tapi eksponensial. Misal: suami baca suatu buku yang saya gak baca. Dari luar, mungkin orang akan berpikir bahwa beda/gap antara saya dan dia adalah 1 buku tersebut. X-Y=1. Tapi kenyataannya, apa benar begitu? Tentu tidak. Karena dari 1 buku itu saja, apa pun informasi yang dia dapatkan, dia bisa langsung menghubungkan itu dengan informasi-informasi yang sebelumnya sudah ada di otak dia, lalu dia bisa membentuk pengetahuan baru dari situ. Seberapa banyak pengetahuan baru yang dia hasilkan, tergantung dari seberapa banyak informasi yang sebelumnya sudah ada, dan seberapa canggih dia menghubungkan antar informasi tersebut. Seperti bola salju, tapi faktor eksponennya tidak bisa dihitung pasti untuk semua orang. Jadi, walau beda jumlah buku yang dibaca mungkin cuma satu, tapi X-Y bisa sama dengan 100, atau bahkan X-Y=10.000, X-1=Y^4 atau X-1=Y^10, sesignifikan itu. Setelah menghasilkan pengetahuan baru, lalu ditambah dengan basis moral yang dimiliki, barulah dia sebagai manusia bisa melakukan suatu action sesuai dengan preferensinya.

Nah.. Apakah kamu lihat polanya? Dari awal satu informasi muncul di otak sampai akhirnya jadi satu action, idealnya itu melalui proses berpikir yang lalu digabungkan dengan kompas moral kita. Dan itu kayaknya menjawab pertanyaan kenapa saya, semakin bertambah umur, semakin tidak suka dengan buku motivasi, yaitu karena buku-buku motivasi atau semacamnya seperti men-skip proses berpikir kita. Thought process-nya manaaaa?? Saya ingat saya jadi lebih bersemangat hidup justru setelah membaca cerita Firdaus di buku Perempuan di Titik Nol, karena dari situ otak saya memproses titik-titik informasi yang masuk melalui kisahnya, lalu menghubungkan dengan informasi pengalaman saya sendiri. Motivasi apa yang didapatkan orang lain mungkin akan berbeda, tergantung pengalaman masing-masing. Tapi kita tergerak karena sudah melalui proses berpikir; itulah seni dari kemampuan otak kita. Bukan serta-merta suatu buku menyampaikan kalimat “hadapilah kerasnya hidup, karena akan ada titik terang di ujung sana”, seperti langsung loncat ke kesimpulan. Jadi, tidak harus buku motivasi yang berisi kata-kata indah penyemangat hidup, tapi juga buku-buku yang polanya langsung loncat ke kesimpulan dan memberi tahu apa yang harus dilakukan, wah saya yang skip deh. Sungguhlah itu seperti buku-buku yang hanya cocok untuk orang yang malas berpikir.

Sekian renungan saya tentang buku motivasi. Tapi kalau kamu masih suka baca buku sejenis itu, ya gak apa-apa juga, daripada gak baca buku sama sekali.

Salam semangat hidup,

Hani

Nyari Jati Diri Kok Lama Banget

Traveling tetaplah cara belajar paling menyenangkan buat gw. Di Tsitsikamma National Park ini lagi belajar tentang bagaimana negara Afsel mengelola pariwisatanya.

Saat usia 20-an gw inget ada yang pernah bilang sama gw bahwa hidup manusia bisa dikategorikan per-dekade. Usia belasan anggaplah masih usia berkembang, belum dihitung dewasa. Saat menginjak usia 20-an, saatnya eksplorasi segala hal, coba apapun, “habisin jatah gagalmu”, katanya. Intinya di usia 20-an, orang ditantang untuk tidak takut mencoba, karena itu memang waktunya. Nah, di usia 30-an, mestinya udah punya gambaran apa yang mau difokuskan, waktunya leveraging, lebih bagus lagi kalau bisa akselerasi, sudah punya identitas yang jelas. Begitu menginjak 40, udah bukan lagi waktunya mencari-cari, tapi saatnya menikmati, seharusnya semua sudah stabil, ya pekerjaan, ya karir, keuangan, semuanya sudah terarah. Bahkan kalau Adriano Qalbi sering bilang: “kenapa life begins at 40? ya karena kalau umur 40 hidup lu gak jelas, seterusnya lu beneran gak akan kemana-mana”. Waw. Usia kritis sekali bukan?

Nah, masalahnya sekarang, gak kerasa gw udah di usia 30-an menuju 40, dan surprise surprise! Gw ngerasa kok gw masih belum menemukan jati diri ya? Cukup mengejutkan buat gw bahwa pencarian jati diri bisa seberliku dan sekompleks ini. Dari sisi personal, gw masih terus mempelajari diri sendiri dan bagaimana relasi dengan mahluk sekitar yang gak mudah, dan dari sisi profesional, lebih kompleks lagi, karena gw sangat generalist, interests gw banyak, dan bidang gw bisa lumayan berubah-ubah. Rencana hidup selalu terlalu dinamis, tapi karena kalau terencana pun, hidup selalu menunjukkan kejutannya. Orang-orang yang kenal gw di usia 20-an, pasti tahu kalau di periode itu gw orang bisnis banget, topiknya duit duit duit, coba wiraswasta ini itu. Sedangkan orang yang kenal gw saat usia 30-an, pasti tahunya gw orang open data, ngomongin anti korupsi, integrasi data, kebijakan data, dan hal-hal terkait itu. Lantas, gw ini sebenernya mau jadi apa? Kemarin anti korupsi, sekarang interest gw nambah lagi ke AI policy, yang ternyata butuh learning curve baru lagi. Sering gw mumet sendiri, “mestinya gw ini gimana sih?”.

Setelah sekian lama gw bergumul dengan kebingungan ini, pada akhirnya, gw berusaha berdamai. Gw lupa kemarin gw dapat inspirasi dari mana, tapi intinya: gak apa-apa terus mencari, selama kamu masih terus berproses, dalam artian masih terus belajar, gak berhenti di satu titik dan nyaman tanpa perkembangan apapun. Gw emang bingung, tapi toh gw masih terus belajar hal-hal baru, skill gw nambah, terus baca buku, pengetahuan gw juga nambah. Jangan takut dengan kebingungan, tapi takutlah kalau kamu tidak sama sekali berkembang #azheg. Mungkin ini klise, tapi semoga bisa beresonansi dengan kamu kalau kamu juga sama seperti aku, masih terus mencari di usia yang mungkin menurut orang lain sudah tidak ideal. Kalau orang bijak bilang: “semua orang punya timeline-nya masing-masing”. Ingat, yang penting: TERUSLAH BELAJAR!

Salam #LifeLongLearning,

Hani

How Study in Australia Transformed Me

I wouldn’t say ‘how Australia changed me’ because I feel like I’m still myself, but the way I act was shifted because of my experience studying in the country. I studied at Flinders Uni in Adelaide and the Uni of Sydney in Sydney, but this time is more about my experience at Flinders because I spent more time there. The program was under the consortium of the Business and Gender Study Department, therefore, I visited a lot of businesses and studied them not only from the business side but also from the gender perspective.

My lessons and takeaways from Australia are numerous, but if I have to choose the top 3, it would be:

1. Learn from your biases. It was funny or quite ironic, because I started learning about gender when I was having a huge bias towards it. At the time, I was having a business team where I was the only woman, and there was quite a resistance to adding more women to the team. During the process of learning, I encountered unpleasant events and was forced to think more. Later on, I just realised that I was biased, so I learned it the hard way. But then, it also made me think about the other (potential) biases I have. I think it’s crucial to notice your personal biases in order to make a better decision and interact with other people.

2. The courage to speak. Perhaps it’s not only in Australia, but also in other Western countries (?), which is very different compared to Asian countries (?). Affected by my surroundings, I felt like I was always encouraged to speak. Ask questions, state your opinions, and dare to argue. It improved my confidence and English speaking skills significantly (I couldn’t stop talking). Now, every time I feel like I need to speak a certain language fluently (and more importantly, eloquently), I know I need a supportive environment. If there’s none, I have to create one.

3. The retrospective method. When I was studying at Flinders, every time after we visited a business or attended a course, at the end of the day, we were asked to present three things: 1. key ideas, 2. what was new for us, and 3. how to implement. The first point (the key ideas) might be the same for all the students, because we heard the same thing. But for the second and the third, they must be different, because it depends on our personal experience and the relation between what we just learned and our work. For example: when we were visiting a winery, how to produce wine might be new knowledge for some students, but not for others. And then, some might think about implementing the business, but as for me, since wine is illegal in Islam, what I thought implementable was the concept of its sustainability. We always presented these three points to end the class, repeatedly, over and over again, until it became a norm. Now, every time after I read a book, attend a seminar, or talk with inspiring people, I try to use this method. I think and reflect, hmmm… (1) what are the key ideas? (2) which parts are new for me or the most interesting? and (3) how can I implement this knowledge or information? Shout out to Prof. Anuradha Mundkur and Cara Ellickson from Flinders, who introduced me to this method!

That’s what I can think of now. Perhaps I will share more in the future, which hopefully can be useful, at least for me, to organize my memory.

Jakarta, during the Friday prayer time, after attending a neuroscience masterclass the night before,

Hani

KUMPULAN KODE REFERRAL LENGKAP – Honey Money Hack

Hai, gaes!

Karena gw punya banyak banget kode referral yang bisa menguntungkan aku dan kamu, jadi gw bikin postingan ini untuk mengumpulkan semuanya di satu halaman terpusat. Berikut ini adalah kode-kode referral yang bisa kamu pake, beserta syarat welcome bonus-nya jika ada. INFO BAGUS: Kalau kamu menggunakan minimal dua saja kode dari gw, kamu berhak bergabung ke grup whatsapp Honey Money Hack, di mana gw akan lebih banyak share cara-cara maksimalin cuan dari berbagai penjuru. Tinggal DM gw di akun instagram @haniwww. Salam cuan!

KODE REFERRAL APLIKASI

Ajaib atau Ajaib Alpha: hani5971663184

Aladin Bank: 7JD6TE

Allo Bank: https://alloappmgm.onelink.me/xSrn/kryecymr

Alfagift: HANI1313

Amar Bank: HANIO001

Astra Pay: E2VJAFP

AttaPoll: ONWKK https://attapoll.app/join/onwkk

Atome Card:

Bale by BTN: RSYF5708

Bank Saqu: BFJ87Y (Syarat: Harus menambahkan dana di Saku Utama paling telat 1 hari setelah membuka akun minimal Rp100.000. Pertahankan dana minimum Rp100.000 tersebut selama 7 hari agar mendapatkan reward)

BIBIT: hani10 (Syarat: investasi minimal Rp1.000.000 untuk pembelian pertama agar mendapatkan reward)

Binance: GRO_14352_XGV80 (https://www.bmwweb.net/referral/earn-together/refertoearn2000usdc/claim?hl=en&ref=GRO_14352_XGV80&utm_medium=app_share_link)

Bizhare: HRPF5P9V

BLIBLI: BLIBLIHANIQDWC

blu BCA DIGITAL: HANIO6Y3D

BNI (rekening): HANIOK105090

BNI (Kartu Kredit) Referral: 113764 (Link: Bit.ly/BNIW12) Khusus kartu kredit BNI, untuk kesempatan di-approve yang lebih besar, setelah apply, infokan aku nama lengkap kalian dan tanggal lahir, supaya bisa dicek dan minta diprioritaskan.

Citilink (LinkMiles): hanirosidaini@yahoo.co.id

Crowdana: HANIO906 https://app.crowddana.id/Nh6g/referral

DANA: b7XcTo

Deliveree: ub072dd

DepositoBPR: HR5090

F&B ID APP: ZGVLGE (SyaratL Jajan pertama minimal Rp15.000 melalui aplikasi F&B APP)

FLIP: HFAO2766 https://flip.id/s/rhfao2766 (Syarat: Bertransaksi transfer beda bank atau top-up e-wallet minimal Rp100.000)

Gotrade: 592626 https://heygotrade.com/referral?code=592626

GROWIN (Mandiri Sekuritas): MDFA21 https://join.growin.id/register?ref=MDFA21

Heymax: https://heymax.ai/?referral_code=BC5EE559 (sebisa mungkin install Heymax-nya dimulai dari link ini. Kalau prosesnya benar, kamu akan langsung dapat 200 miles)

Imperial Club: HAN875959

Indodax: haniwww

Jago BANK: HAND1E9F (Syarat dapat reward Rp50.000: Top up Rp500.000 dan transaksi QRIS Jago Rp20.000. Top up dalam 7 hari pertama registrasi, dan jaga saldo rata-rata Rp.500.000 selama 30 hari)

Jakpat: haniwww

Jiwa+ (aplikasi Janji Jiwa): HANG8Z

KLOOK: XLES4 (Syarat dapat reward Rp75.000: menyelesaikan satu pesanan)

KROM Bank: HANI2921

Kris+: F541093 (Link: https://app.krisplus.com/tpJv5RHr3Wb)

LakuEmas Elite: HANI444118

LINE BANK: SBYLB5

Livin Mandiri: https://livin.page.link/?link=https://livin.page.link/referral?c%3DMGMKF5YM3X&apn=id.bmri.livin&isi=1555414743&ibi=id.bmri.livin

LUNO: CSRPA5 (Syarat dapat reward Rp20.000: deposit dan beli kripto Rp1.500.000 dari Luno’s Instant Buy, bukan Luno Exchange)

Mega Bank Kartu Kredit: MGMHAN7488 https://msmile.onelink.me/ZTtt/mgm (Jika aplikasi kartu kreditnya disetujui, akan dapat bonus Rp150.000 MPC Points)

MAP CLUB: HAQVINR

Mobee: 164184c0 (https://mobee.onelink.me/kGn9/6amq01sn)

Motion Bank: 01HANSY29 https://motionbank.page.link/jUAEjCsbt4586Nsn8

MyValue: HANIWWW

Nex Card/Bank: 8ct9v7rl

Paxel: haniwww

Pelago: https://pel.sg/Vh8HA0

Pegadaian Digital (TRING!): TRHANIF386 (https://tring.onelink.me/rIEN/2gqk5)

Pintu: hanirosidaini033

Pluang: HANI315276

RAYA Bank: HANIOKTSPO2F

Reku: @haniwww

Revolut: https://revolut.com/referral/?referral-code=haniq4dol!FEB1-25-AR-H1

Seabank: TWPDSD (Syarat dapat reward: nabung minimal Rp50.000 dan pertahankan selama 3 hari)

Shariacoin: 78433 (https://app.shariacoin.co.id/r/78433)

Shopback: rmZMLL

Shopeepay: ZBRV8HJ9N

SOCO app: haniwww https://sociolla.app.link/haniwww-referral

Starbucks (Rewards App): HANIR-443F0E-15DBCA (Syarat: bonus minuman dengan pembelian min.50ribu)

Superbank: LNXL1M

Surveyon: Ps330765

TanamDuit: HANIO00LE2K (https://app.tanamduit.com/invite/ddFT)

Tiktok: F64DPLP6SPYXG

Tomoro Coffee: I4HE2I

Treasury: trs-651205090d1633 (https://treasury.id/pages?redirect=Register&referralCode=trs-651205090d1633)

TREVO: IIIFLR

Ultra Voucher: L7Y8P4

Watsons ID: hw8V6HlIbg

Wondr by BNI: 1owo https://referral-wondr.bni.co.id/1owo

YUP: https://finture.id/active/mgm-b/JWv07mWvro5MCiTI5jbZis8Ys34bNMEz5pWX8I1DTMXgv4vCwV%2FedhNzmHHCRiZc

Thank you!

A Letter for My Future Kids

I always have thousands of thoughts in mind, some of which are concerns towards life, things that people may not want to hear, but I want to spit them out. And strangely, recently, if I can imagine talking this kind of stuff with someone, I expect it could be my kids.

First of all, sorry for not meeting you much earlier, as I’m not done yet with my life. If you’re really my kids, I believe you’ll understand. Everything happens at the right time, so don’t worry about the timeline.

Now, there are three things that I want to talk with you:

  1. There’s no fixed formula in life. People can say anything, but the truth is: nothing is absolutely right, even for the most common things. And that is what makes life interesting. Example:
  • So many people say: have kids as early as possible, so the age gap is not big, you can play with the kids like siblings, or whatever. As I grow older, I believe that there’s no better or worse of having kids early. My mother married when she was 17 and had kids right away. The financial condition was never been good, and her kids, including me, lived with many limitations. As I hit a productive age, my parents are still alive, which is a good thing, but on the other side, it made me a sandwich generation. I had to help my family, even pay for my sibling’s tuition, while keep struggling to fulfil my needs. I was busy, very busy just thinking about money. I don’t want it to happen to you. I’m building my passive income, so you don’t have to think about my daily needs as you grow up. But it takes time. So, there’s no right or wrong in terms of timeline. Let’s just live our lives as we can, ok?
  • I remember someone telling me to keep my dreams in silence, no need to tell anybody, because as you tell people, it can lower your persistence, as if you’ve achieved them. I used to believe it, until I discovered that telling people could increase our accountability, besides opening chances for people to help us. There’s no right or wrong in doing so, we just have to accept the consequences.
  • Fun fact: Since I realised this point, that there’s no formula in life, I reduced reading “self-help” or “self-improvement” books, as they became less and less interesting. I believe even the authors of such books are still trying to figure out life. The only thing you have to read and follow is Quran and hadist, and that’s more than enough.

2. The key to success = eliminating distraction. It sounds like a life formula, which contradicts the point above, but here I just want to share my story. I was born and lived in an interesting period, before and after the internet existed. Before the internet even sound, people who excel were the ones with the most information, and it was hard to get them. You had to go to the library, read piles of books just to find specific knowledge, had hardship finding a tutor, etc. So people were imagining, that if only the access to information were so open and easy to find, human resources would be developed faster, then the quality of our society would be excellent. Then voila! Internet boomed! Year after year, internet penetration is dominating, you can learn about literally anything, even accessing materials from the world’s top universities. But can I say the quality of Indonesian people become high? The fact is, the data shows otherwise, due to what most of our people consume, and they allow too many distractions involved. The world has shifted. So, now, it’s no longer about who has the most information, but who can eliminate most of the distractions. Social media, online games, and unnecessary information are your real enemies to any dreams you want to achieve.

3. Don’t let satan shift your principles. Youth social life is getting more and more out of control. I know it’s hard to avoid, but I hope you have the strength to live your life as our God advises. I remember when I was a teenager, it was weird seeing a girl wearing a hijab sitting next to a boy in a public space. It made me so uncomfortable. But then, as time went by, it became less and less strange, like kissing scenes in Indonesian movies, etc (FYI, the kissing scene in our movies used to be taboo!). That’s how satans work, they shift our perspective of what is common and not. Several days ago, I watched a video on YouTube, starring an Indonesian actor on a talk show, named Jef** Ni****, where he openly shared that he has slept with more than 20 women in life so far (which is disgusting). But what surprised me more was the comments on that video, where people defended the actor by saying “It’s better to be open rather than be a hypocrite!”. So stupid. Sexually active outside marriage and being a hypocrite are both sinful, so there’s no need to compare them and consider which one is still better. What makes it even more concerning is, that I just realised that many youths think the same, that “it’s better to be openly sinful rather than be a hypocrite”, including in our family. One of my nieces who has a boyfriend, when she was told to keep their attitude in public said “I just want to show who I am, not like your other niece who looks good in front of our family but does the same thing behind”–> another stupid argument. At least my other niece has a pudency, not like you! In the coming years, I believe this thing will be even harder for you, as the Quran said, so I just hope you can be stronger, and beat satan around, with God’s permission.

That’s it for now. I’ll write more to you, and hopefully we can talk someday. Thanks for reading.

Your overthinking mom,

Hani

Saat Kawan Nigeria-ku di Jakarta

Namanya Favour, dari Abuja, Nigeria

Sebenarnya tidak hanya seorang kawan, karena Favour-pun adalah kolega di kantor, anggota tim di OO (nama kantor). Usianya paling muda, tapi karena latar belakangnya dari hukum, sesuai dengan bidang pekerjaan, dan dia memang pintar di bidangnya, membuat karirnya cukup melesat, sampai akhirnya sekarang berada di posisi Senior Country Manager untuk wilayah Afrika. Karena pekan kemarin ada kegiatan lokakarya di Jakarta, dia pun akhirnya datang ke kota ini, yang tidak kusangka ternyata adalah kota Asia pertamanya. Ternyata dia belum pernah ke benua Asia sama sekali sebelumnya. Yah, sama saja denganku yang belum juga kunjung ada kesempatan ke benua Afrika.

Di hari terakhir dia di Indonesia, setelah satu pekan lokakarya dan empat hari terakhir dia habiskan dengan berlibur ke Bali sendirian, akhirnya kami jalan berdua. Janjian di Grand Indonesia (GI), karena dia bersikeras ingin ke satu tempat di mall itu untuk menyantap satu makanan yang menurutnya nikmat sekali. Dia ingin makanan itu lagi sebelum pulang ke negaranya. Penasaran, akupun mengiyakan. Aku sampai penasaran makanan apa yang dia maksud. Terlebih karena dia menyebutkan nama tempatnya adalah Three Uncles, tempat di GI yang belum pernah aku datangi. Saat sudah sampai, aku biarkan dia pesan, dan ternyata, oh la la, ternyata dia pesan nasi goreng!! “Ooohhh nasi goreeeng”, kataku. “Ya ya”, katanya. Dari percakapan kami, sepertinya dia tidak tahu bahwa nasi goreng dan fried rice merujuk pada makanan yang sama. Tapi baiklah, ini jadi memberikanku referensi, bahwa orang asing memang suka dengan nasi goreng. Lain kali, kalau ada kawan asing lainku datang, kuajak saja ke tempat seperti ini.

Kami pun berbincang tentang banyak hal, baik personal maupun profesional. Menariknya, Favour memang tipe orang yang hidupnya sangat didekasikan untuk pekerjaan, seolah-olah pekerjaannya lah yang mendefinisikan dirinya. Hasilnya, saat rapat ataupun bicara santai seperti ini, tata bicaranya tetap formal, dan dia akui itu. Sesama orang lokal (di negara masing-masing) yang bekerja di lembaga internasional, kurang lebih kami memiliki kesamaan, maka kubagikan lah beberapa pandanganku juga tentang ini. Salah satunya adalah tentang dinamika bagaimana kami harus membawa diri saat menghadapi pemerintah setempat. Bahwa walaupun kami representatif dari kantor global yang berusaha menawarkan solusi, kami harus tetap punya kerendahan hati untuk menyampaikan bahwa pemerintah tersebut lah yang lebih mengerti tentang isu terkait negaranya, caranya adalah saat datang mengenalkan diri, kami tidak bilang “we are the experts”, tapi justru memilih diksi ” we are people with expertise”. Ternyata hal sepele seperti itu saja bisa jadi signifikan beda hasilnya.

Setelah berbincang panjang lebar, akhirnya kami pun bersegera pergi, karena Favour sudah harus ke bandara. Tapi sebelum itu, dia ingin beli oleh-oleh kopi Indonesia, dan kuarahkan ke booth kopi Tanamera, karena itu kopi andalan suamiku juga sehari-hari. Karena uang rupiah dia kurang, kuminta saja uang itu, biar jadinya aku yang bayar ke kasir pakai QRIS. Melihat aku bayar, dia ternyata terkesan, karena di Indonesia bisa cukup scan barcode seperti itu. Aku sampaikan bahwa penggunaan QRIS sudah umum di negara ini, bahkan untuk sekadar beli jajanan di jalan. Sedikit banyak aku jadi bangga dengan kemajuan negara ini, walau aku tak sempat tanyakan balik apa di Nigeria sudah mulai mengadopsi teknologi yang sama. Selain kopi, kubelikanlah juga dia eskrim andalanku setiap ke GI, yaitu eskrim buah dari Paletas Way terbaik.

Pertemuan berakhir, kami pun berpelukan tanda perpisahan, berjanji akan bertemu lagi di bagian dunia yang lain. Semoga berikutnya aku yang giliran ke Afrika. Amin.

Saat kami di Oslo. Kawan wanitaku yang dari Afrika memang sering ganti gaya rambut.

Jakarta, 30 Agustus, 9 hari setelah jalan-jalan di GI

Haniwww

Renungan Pemilu: Bentuk Negara dan Anehnya Calon Pemimpin

Orang ini telah mengecewakanku. Tapi karenanya aku jadi berpikir ulang tentang banyak hal.

Pemilihan presiden 2024 sudah lewat. Proses dan hasilnya memuakkan, tapi itulah demokrasi. Benar kata orang: demokrasi itu layak jika masyarakatnya cukup terdidik secara merata. Di saat setiap orang punya satu suara, padahal mereka punya kapasitas berpikir yang jauh berbeda, apalagi didukung dengan ketimpangan ekonomi yang buruk, sehingga mudah digerakkan oleh gimik-gimik murahan, ya hasilnya seperti saat ini. Apalagi aku juga tahu salah satu cara mereka menggerakkan massa dengan menggunakan agama. Bikin sakit kepala. Walau ada juga yang bilang “yasudahlah.. menuju demokrasi yang ideal kan ada prosesnya.” Iya, tapi masalahnya aku hidup di masa ini. Dan intinya.. dari semua kejadian, aku jadi semakin bertanya-tanya, sebenarnya bentuk pemerintahan yang less-evil itu yang mana? diantara monarki, aristokrasi, timokrasi, oligarki, demokrasi, teokrasi, dan tirani?

Untuk menjawab itu, aku perlu banyak belajar dulu. Membaca banyak literatur dan catatan sejarah. Inginnya aku menulis nanti saja, kalau sudah ketemu jawabannya. Tapi menulis prosesnya pun sepertinya menarik, maka dari itu kutuliskan awalku di sini. Ada beberapa buku yang akan kubaca terkait ini:

Yang Social Contract sudah kubaca belasan tahun lalu, tapi sepertinya di saat aku tidak banyak tahu, jadi belum banyak mengerti. Why Nations Fail juga ada di rumah, milik suamiku, walaupun dia juga belum selesai membacanya. The Communist Manifesto sepertinya akan jadi buku pertama, karena aku sedang tertarik-tertariknya dengan Marxisme. Yang lain menyusul.

Aku yakin pasti sudah banyak juga tesis dan jurnal berisi perbandingan bentuk pemerintahan. Ujung-ujungnya pasti berkesimpulan “tidak ada bentuk yang sempurna”, karena kalau memang ada yang sempurna, pasti sudah berusaha diadopsi oleh banyak negara. Tapi aku ingin menemukan jawabanku sendiri, jadi kupilih untuk menempuh perjalanan membaca buku-buku klasik ini.

Sebuah pemikiran pun muncul: jika kembali ke agama (Islam), Allah dan Rasul menyuruh dan mencontohkan seperti apa? Dulu, khilafah seperti pemimpin untuk semua aspek kehidupan, mengurusi ibadah sampai perkara perut. Sekarang, pada prakteknya, pemimpin wilayah dan pemimpin agama seperti dua pihak yang berbeda. Urusan agama, diatur oleh pembesar di mesjid, sedangkan pemerintah hanya harus mengakomodir semua orang bisa beribadah, karena toh warganya pun saling berbeda kepercayaan. Pertanyaannya, apakah pemimpin agama merangkap pemimpin wilayah itu masih relevan? Dan jika memang tak mengapa dibedakan, apakah kepemimpinan wilayah kita samakan saja dengan kepemimpinan di perusahaan? Artinya bukan sesuatu yang harus kita hukumi secara agama?

Yang pasti, yang kutahu dan kuyakini, jadi pemimpin itu berat, tanggung jawabnya dunia akherat. Menengok ke kepemimpinan islam, cara memilih pemimpin adalah dengan bermusyawarah. Seperti pada saat Nabi Muhammad wafat, para ahli berdebat, dan di dalamnya terdapat proses-proses yang terbuka. Yang menarik, adabnya adalah, calon pemimpin itu tidak mengajukan diri, tapi diajukan orang-orang lain, berdasarkan kepribadian dan kemampuannya. Jika sudah terpilih, calon itu diminta berbesar hati untuk menerima amanah tersebut. Orang yang mengerti ilmu kepemimpinan, kubayangkan pasti akan merasa berat menerima posisi itu, mengingat pertanggungjawabannya langsung dengan Allah, dan betul-betul jadi bertanggungjawab terhadap semua orang yang berada di bawah otoritasnya. Taruhannya surga neraka. Lalu, bagaimana jika sampai harus memimpin 280 juta orang seperti di Indonesia? Memastikan semuanya bisa hidup dengan baik. Kalau mengerti betul maknanya, semestinya tidak ada yang mau jadi pemimpin. Akhirnya bagiku sekarang, melihat ada orang yang mengajukan diri jadi presiden Indonesia itu aneh, ngotot jadi gubernur atau walikota, itu aneh. Perspektifku melihatnya lebih seperti orang yang ingin kekuasaan alih-alih ingin mengabdi. Jika kau ingin mengabdi, mengabdilah apapun posisimu. Jika kau memang layak jadi pemimpin, pasti orang-orang akan mengajukanmu. Namun jika engkaulah yang merasa sangat percaya diri untuk mengambil kursi pemimpin, ada yang aneh dengan pemahamanmu. Atas dasar itu, untuk konteks Indonesia, apapun pemilunya di masa yang akan datang, sepertinya kriteria yang kucari hanya satu: aku mencari calon yang diajukan orang, dan dia terlihat paling segan untuk mengambil posisi. Bukan karena tak mampu, tapi karena dia tahu, itu bukan sesuatu yang layak dicita-citakan.

Jakarta, 12 Agustus 2024

dengan pemikiran yang bisa terus berubah

PS: Untuk Pak Jokowi, Anda sangat mengecewakan. Kau bukan lagi wajah rakyat, tapi hanya pengulangan dari sejarah yang tak pantas.

Asal Kau Tahu

Aku sedang gila-gilanya membaca

Membaca apapun yang membuat kepalaku kaya

Membaca cerita mereka yang biasa sampai istimewa

Semuanya membuat hatiku memarak karena berbeda

Mengapa mereka bisa menulis seperti itu

Tanyaku terus dengan kagum

Aku juga ingin menulis

Aku ingin seperti mereka

Menorehkan setitik tinta dalam sejarah

Memberikan ruang untuk pojok imajinasimu

Bahkan ingin membuat ideologi baru

Asal kau tahu, akupun punya semangat itu!

Sempat ku berpikir dogma membuatnya tiada

Menciptakan batas tak boleh semena-mena

Tapi kini ku hanya ingin menulis

Menulis, agar semua energi ini sampai pada muaranya.

Jakarta, 8 Agustus 2024

Sambil menelaah kata-kata Pramoedya